Damianus Kusviantono, M.Pd

Saya Damianus Kusviantono, M.Pd mengajak saudara semua untuk belajar bersama terkait dengan materi Pendidikan Agama Katolik. Semoga pemahaman kita semakin mendalam dan hidup kita pun berbuah manis.





Judul Pelajaran K-8




Judul Pelajaran K-8




Bab I Yesus Mewartakan Kerajaan Allah .
Pj 1 : Kerajaan Allah sebagai Pokok Pewartaan Yesus
PJ2:  Yesus Mewartakan Kerajaan Allah melalui Perumpamaan
PJ 3 :  Yesus Mewartakan Kerajaan Allah melalui Tindakan dan
Mukjizat

Bab II Konsekuensi Pewartaan Yesus
PJ 4 : Berbagai Tanggapan terhadap Pewartaan Yesus
PJ 5 : Sengsara dan Wafat Yesus sebagai Penolakan Manusia
PJ 6 : Kebangkitan Yesus sebagai Tanda Penerimaan Bapa

Bab III Pribadi Yesus Kristus.
PJ 7 : Yesus Pemenuhan Janji Allah.
PJ 8 : Kemanusiaan dan Ke-Allahan Yesus

Bab IV Panggilan dan Perutusan Murid Yesus.
PJ 9 : Panggilan Para Murid Yesus..
PJ 10 : Cara Hidup Murid Yesus.
PJ 11 : Melaksanakan Tugas Perutusan sebagai Murid Yesus
Bab V Peran Roh Kudus bagi Murid Yesus 
PJ 12 :  Yesus Mengutus Roh Kudus
PJ 13 : Roh Kudus Memberi Daya Kekuatan
PJ 14 :  Mengikuti Bimbingan Roh Kudus





Mengembangkan diri sebagai perempuan atau laki-laki




Mengembangkan Diri sebagai Perempuan
atau Laki-laki (K-7 , Pj 8)


Kompetensi Dasar
3.4 Memahami seksualitas sebagai anugerah Allah demi kehidupan bersama yang lebih baik
4.4. Menghargai seksualitas sebagai anugerah Allah demi kehidupan bersama yang lebih baik

Indikator
Peserta didik mampu
1. Menyebutkan contoh sikap/kebiasaan remaja tidak mendukung perkembangan dirinya menjadi perempuan atau laki-laki sejati.
2. Menjelaskan berbagai keterampilan, sikap, kebiasaan yang perlu dilatih dan dikuasai sejak kini agar berkembang menjadi perempuan atau laki-laki sejati.
3. Menjelaskan pandangan Kristiani tentang panggilan untuk mengembangkan diri sebagai perempuan atau laki-laki.


Umumnya remaja SMP sadar bahwa dirinya, sebagai perempuan atau laki-laki sedang berkembang. Ia sadar bahwa dirinya makin menarik karena cantik atau tampan. Ia juga sadar bahwa kekhasan dan fungsi-fungsi dirinya makin bertambah. Dalam kondisi semacam itu sesungguhnya mereka makin perlu mendapat bimbingan dan arahan, agar mereka tidak hanya merasa puas terhadap pencapaian kematangan fisik. Sebab, banyak kasus sekarang ini yang memperlihatkan
beberapa remaja yang menggunakan pencapaian kematangan fisik itu justru dengan melakukan tindakan yang dapat merusak diri mereka sendiri, seperti memamerkan bahkan menjual tubuh secara murahan, atau melakukan pengeroyokan untuk memperlihatkan kekuatan, merokok ataumemakai narkoba sebagai gaya hidup. Tentu saja para remaja perlu belajar menyadari bahwa pencapaian kematangan fisik itu bukan titik akhir dari perkembangan mereka. 
Para remaja, termasuk kalian perlu diajak melangkah untuk berfikir lebih jauh bahwa masih banyak hal yang harus dilatih, dimiliki dan dibiasakan dalam hidupnya. Sebab panggilan luhur mereka sebagai perempuan atau laki-lakiyang sesungguhnya adalah menjadi manusia sempurna, manusia sejati, yakni sebagai perempuan sejati atau sebagai laki-laki sejati.


Iman Katolik memberi penegasan bahwa pria atau wanita pada dasarnya merupakan anugerah Allah yang indah dan patut disyukuri. Maka perlu dihormati, dijalankan dan dikembangkan secara benar dan bertanggung jawab. Mengembangkan diri sebagai perempuan atau laki-laki pertama- tama berarti mengembangkan diri agar sebagai perempuan atau laki-laki, mampu memancarkan citra kekuatan dan kasih Allah yang lemah-lembut. 

Bersamaan dengan itu, mengembangkan diri menjadi perempuan atau laki-laki dapat diwujudkan pula dengan sejak dini menjaga kemurnian dan kesucian, baik fisik (tubuh) maupun jiwa.Tentang kesucianTubuh, Santo Paulus dalam Suratnya  kepada umat di Korintus menegaskan bahwa tubuh kita merupakan Bait Roh Kudus (1Kor. 6:13b-20), yakni tempat roh Allah hadir dan berkarya dalam diri manusia. Maka, kita tidak hanya perlu menghormati tubuh kita, melainkan merawatnya dan menggunakan tubuh kita sesuai dan demi kemuliaan Allah sendiri. Lebih jauh dalam syahadat ditegaskan kembali bahwa tubuh kita juga akan dibangkitkan kembali, diubah, dan disempurnakan oleh Allah pada saat kebangkitan.

Kita percaya akan adanya kebangkitan badan. Maka tubuh manusia tidak hanya fisik-jasmaniah, melainkan bersifat spiritual-rohaniah, yang dari padanya harus menghasilkan buah-buah kebajikan dan susila yang baik. Jangan sampai tubuh yang kita miliki menjerumuskan kita ke dalam dosa.


Melalui pelajaran ini, kalian  diharapkan sejak dini belajar melatih diri bersikap kritis dalam  memilih dan memilah hal-hal yang mendukung perkembangan kepribadiannya dan berusaha dengan keras menghindari dan menolak hal-hal yang dapat merusak dirinya.


 Beberapa peneguhan berikut ini.
 a. Santo Paulus dalam 1Kor 6: 13b-20 mengatakan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Tubuh kita merupakan sarana kehadiran Allah, sekaligus sarana kita  untuk mewujudkan kehendak Allah.

b. Sebagaimana diuraikan dalam pelajaran sebelumnya bahwa Allah menciptakan manusia baik perempuan maupun laki-laki sebagai citra-Nya. Maka panggilan manusia, entah sebagai perempuan atau laki-laki, menampilkan dan memancar-
kan diri sebagai Citra Allah. Secara lebih khusus, dalam artikel 2335 ditegaskan bahwa manusia, entah perempuan atau laki-laki harus mampu memancarkan
citra (gambaran dari) kekuatan dan cinta kasih Allah yang lemah lembut. (bdk. artikel 2335)
c. Gambaran Allah yang kita imani adalah Allah yang kuat kuasa. Kekuatan Allah itu tak akan tergoyahkan oleh kekuatan apapun juga. Kekuatan Allah bukan kekua tan untuk menindas dan menguasai; melainkan untuk melayani, mengasihi,
membahagiakan dan menyelamatkan. Gambaran Allah yang kita imani juga adalah Allah yang Mahakasih. Kasihnya lemah lembut, penuh pengampunan  dan tanpa batas. Allah menyatakan kasih-Nya yang lembut serta tanpa batas itu dengan rela menyerahkan anak-Nya sendiri menjadi korban tebusan bagi
manusia sampai wafat di kayu Salib.
d. Salah satu usaha memampukan diri sebagai pancaran kekuatan dan kasih Allah itu, maka kita diajak menjaga kesucian diri, baik sebagai perempuan maupun laki-laki (bdk. artikel 2342-2345), sebagaimana diungkapkan dalam Katekismus
Gereja Katolik.














Perempuan dan laki-laki sederajat












Perempuan dan Laki-laki Sederajat (K-7 , Pj 7)

Kompetensi Dasar
3.3. Memahami kesederajatan sebagai laki-laki atau perempuan
4.3. Mengembangkan kesederajatan sebagai laki-laki atau perempuan dalam hidup
sehari-hari

Indikator
Peserta didik mampu
1. Menjelaskan pandangan masyarakat tentang kedudukan perempuan dan laki-laki.
2. Memberikan contoh kasus yang memperlihatkan pandangan keliru tentang kedudu-
kan perempuan dan laki-laki.
3. Menjelaskan makna kesederajatan antara perempuan dan laki-laki berdasarkan kuti-
pan Katekismus Gereja Katolik artikel 369, 371, 372; Yoh 8: 2–11 dan Mrk 15: 21-28.
4. Menyebutkan berbagai usaha untuk mengembangkan kesederajatan perempuan
dan laki-laki dalam kehidupan sehari-hari.




Dalam kebudayaan tertentu di masyarakat kita masih banyak ditemukan pandangan yang
menganggap laki-laki lebih berharga dibandingkan dengan perempuan. Anak laki-laki sering
dianggap andalan masa depan karena ia akan menjadi tulang punggung keluarga. Hal itu
disebabkan karena laki-laki dianggap pribadi yang kuat dan dapat menguasai banyak hal.
Laki-laki adalah kebanggan keluarga. Sebaliknya, anak perempuan dipandang sebagai pribadi
yang lemah dan kurang mampu menjadi pemimpin dalam keluarga. Maka sering kita jumpai
ada orangtua yang merasa kecewa ketika mengetahui bahwa anak yang lahir ternyata adalah
anak perempuan. Dalam banyak hal, anak laki-laki sering lebih banyak mendapat kesempatan
untuk mendapat pendidikan yang tinggi, dan perempuan kurang memperoleh kesempatan
yang sama. Inilah yang disebut budaya patriarkhi, yakni budaya yang memandang kedudukan
kaum laki-laki lebih penting daripada kedudukan kaum perempuan.


Situasi serupa terjadi pula pada zaman Yesus di kalangan bangsa Yahudi, sebagaimana
banyak dikisahkan dalam Kitab Suci. Kaum perempuan menjadi kaum nomor dua dalam
tatanan masyarakat. Maka tidak mengherankan jika banyak perlakuan tidak adil terhadap kaum
perempuan. Perempuan yang tertangkap basah sedang berbuat dosa dihakimi secara sepihak
oleh orang banyak tanpa melihat bahwa kaum laki-laki juga berdosa (lih. Yoh. 8: 2-11). Peraturan-
peraturan yang diterapkan dalam pertemuan-pertemuan jemaat menunjukkan betapa kaum
perempuan terpinggirkan, kurang diberi tempat (lih. 1Kor. 14: 26-40; 1Tim. 2: 11-14). Walaupun
demikian, Yesus sangat menghargai dan membela kaum perempuan. Yesua memperlakukan
perempuan berzinah secara manusiawi (lih. Yoh. 8: 2-11). Yesus juga memuji seorang perempuan
Kanaan yang percaya (lih. Mrk. 15: 21-28) dan menempatkan contoh seorang janda miskin yang
memberi sumbangan di bait Allah sebagai teladan dalam kejujuran di hadapan Allah. Yesus
selalu berjuang agar tercipta suatu masyarakat ketika laki-laki dan perempuan sederajat/setara.

Sebagai pribadi-pribadi yang lahir dari berbagai budaya, kalian  juga mungkin pernah
mengalami perlakuan tidak adil yang diberikan masyarakat kepada kaum perempuan. Melalui  pelajaran ini peserta didik diharapkan dapat memahami kesamaan martabat kaum perempuan danlaki-lakisehinggadapathidupberdampingansebagaipribadi-pribadiyangsalingmenghargai dan saling membantu.




Beberapa gagasan berikut ini.
a. Yesus hidup dalam masyarakat Yahudi tatkala kaum perempuan menjadi warga
masyarakat kelas dua dalam tatanan masyarakat. Pada masa itu, kaum perem-
puan Yahudi banyak mendapat perlakuan tidak adil.

b. Beberapa kasus dalam Kitab Suci memperlihatkan hal itu. Antara lain:
Perempuan yang kedapatan berbuat dosa, dihakimi secara sepihak oleh
orang banyak tanpa melihat bahwa kaum laki-laki juga berdosa (lih. Yoh. 8:
2-11). Peraturan-peraturan yang diberlakukan dalam pertemuan-pertemuan
jemaat menunjukkan betapa kaum perempuan terpinggirkan, kurang diberi
tempat (lih. 1Kor. 14: 26-40; 1Tim. 2:11-14).
c. Yesus sangat menghargai dan membela kaum perempuan. Yesus memperlakukan perempuan berzinah secara manusiawi (lih. Yoh. 8: 2-11). Yesus juga
memuji seorang perempuan Kanaan yang percaya (lih. Mrk. 15: 21-28) dan menempatkan contoh seorang janda miskin yang memberi sumbangan di bait
Allah sebagai teladan dalam kejujuran di hadapan Allah. Ia selalu berjuang agar tercipta suatu masyarakat di mana laki-laki dan perempuan sederajat/setara.
d. Sikap dan tindakan Yesus itu tampaknya dilandasi oleh pemahaman-Nya bahwa baik laki-laki maupun perempuan sama di mata Allah karena Allah
sendiri telah menciptakan mereka sebagai citra Allah yang saling membutuhkan. Karena saling membutuhkan itulah, maka tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah di antara mereka.
 



Popular Post