Damianus Kusviantono, M.Pd

Saya Damianus Kusviantono, M.Pd mengajak saudara semua untuk belajar bersama terkait dengan materi Pendidikan Agama Katolik. Semoga pemahaman kita semakin mendalam dan hidup kita pun berbuah manis.





Sengsara dan Wafat Yesus sebagai penolakan manusia






Indikator
1. Menyebutkan sikap positif dan negatif dalam menghadapi penderitaan.
2. Menceritakan dua peristiwa penting sebelum sengsara dan wafat Yesus.
3. Menjelaskan sikap Yesus dalam menghadapi sengsara dan wafat-Nya
4. Meneladan Yesus dalam menghadapi penderitaan berdasarkan Kitab Suci (Flp 2:5-11).




Saat-saat menjelang sengsara Yesus, masyarakat Yahudi disibukkan dengan
persiapan menyambut Perayaan Paskah Yahudi. Yesuspun merasa perlu untuk
merayakannya, maka Ia menyuruh para murid-Nya untuk mempersiapkan
perjamuan Paskah bersama. Rupanya, Perjamuan Malam Paskah itu, menjadi
perjamuan terakhir bagi Yesus dengan para murid-murid-Nya, sekaligus menjadi
perjamuan perpisahan sebelum Ia meninggalkan para murid-Nya. Perjamuan itu
menjadi lambang pengorbanan Yesus yang sebesar-besarnya bagi para murid dan
umat manusia. Perjamuan itu menjadi perjamuan syukur, sekaligus pengorbanan
diri-Nya. Roti dan anggur yang dihidangkan menjadi lambang Tubuh dan Darah-Nya
yang akan dikorbankan di kayu salib.
Usai mengadakan Perjamuan Paskah, Yesus ditemani para murid-Nya pergi ke
Taman Zaitun untuk berdoa. Di Taman Zaitun atau Taman Getsemani inilah kisah
penderitaan Yesus dimulai.
Yesus sangat sadar bahwa dalam menjalankan tugas perutusan dari Bapa-Nya,
Ia akan menghadapi resiko yang sangat berat, bahkan harus kehilangan nyawa-Nya
dengan cara yang sangat tragis. ”Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan
ini daripada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang
terjadi” (Luk 22:42). Sebagai manusia Ia tentu merasa sangat takut. Injil Lukas secara
dramatis menggambarkan: “Ia sangat ketakutan dan makin sungguh-sungguh berdoa.
Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Luk 22:44).
Lalu datanglah serombongan orang dengan Yudas murid-Nya berjalan di depan
dan memberi ciuman kepada Yesus. Yudas Iskariot telah mengkhianati Yesus dan
menjual dengan harga 30 keping perak. Lalu Yesus ditangkap dan dibawa dari
tempat itu. Dan ia digiring ke rumah Imam Besar. Ia dihadapkan ke pengadilan
agama. Ia didakwa bertubi-tubi. Ia berdiri di sana tanpa seorang pembela pun.
Malahan di luar pengadilan itu, seorang sahabat kepercayaan-Nya, Petrus dengan
bersumpah mengatakan secara terbuka bahwa ia tidak mengenal Yesus. Bencana
tidak hanya berhenti di situ saja. Orang-orang yang menahan Yesus mengolok-olok
Dia dan memukuli-Nya. Kemudian Yesus dibawa kepada Pilatus sebagai Wali Negeri
(Gubernur) Roma. Pilatus tidak menemukan kesalahan pada diri Yesus, tetapi karena
kuatnya desakan untuk menghukum Yesus, maka Pilatus mengirim Yesus kepada
Herodes, sebab Yesus berasal dari Galilea. Herodespun menista dan mengolok-olok
Yesus, ia mengenakan jubah kebesarannya dan kembali mengirim Yesus kepada
Pilatus. Lalu Pilatus mengumpulkan imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin
serta rakyat,dan berkata kepada mereka: “Kamu telah membawa orang ini kepadaku


sebagai seorang yang menyesatkan rakyat. Kamu lihat sendiri bahwa aku telah
memeriksa-Nya, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tuduhkan kepada-Nya
tidak ada yang kudapati pada-Nya. Dan Herodes juga tidak, sebab ia mengirimkan
Dia kembali kepada kami. Sesungguhnya tidak ada suatu apa pun yang dilakukan-Nya yang
setimpal dengan hukuman mati. Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskan-Nya.”
Tetapi mereka berteriak bersama-sama: “Enyahkanlah Dia, lepaskanlah Barabas
bagi kami!”
Barabas ini dimasukkan ke dalam penjara berhubung dengan suatu pemberontakan
yang telah terjadi di dalam kota dan karena pembunuhan.
Sekali lagi Pilatus berbicara dengan suara keras kepada mereka, karena ia ingin
melepaskan Yesus.
Tetapi mereka berteriak membalasnya, katanya: “Salibkanlah Dia! Salibkanlah
Dia!”
Kata Pilatus untuk ketiga kalinya kepada mereka: “Kejahatan apa yang sebenarnya
telah dilakukan orang ini? Tidak ada suatu kesalahan pun yang kudapati pada-Nya,
yang setimpal dengan hukuman mati. Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskan-
Nya.”
Tetapi dengan berteriak mereka mendesak dan menuntut, supaya Ia disalibkan,
dan akhirnya mereka menang dengan teriak mereka.
Lalu Pilatus memutuskan, supaya tuntutan mereka dikabulkan.
Dan ia melepaskan orang yang dimasukkan ke dalam penjara karena pemberontakan
dan pembunuhan itu sesuai dengan tuntutan mereka, tetapi Yesus diserahkannya
kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya.
Ketika mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon
dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, lalu diletakkan salib itu di atas bahunya,
supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus.
Sejumlah besar orang mengikuti Dia; di antaranya banyak perempuan yang
menangisi dan meratapi Dia.
Dan ada juga digiring dua orang lain, yaitu dua penjahat untuk dihukum mati
bersama-sama dengan Dia.
Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan
Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya
dan yang lain di sebelah kiri-Nya.
Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang
mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya.
Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin
mengejek Dia, katanya: “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan
diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.”
Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur
asam kepada-Nya dan berkata: “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah
diri-Mu!”
Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: “Inilah raja orang Yahudi”.
Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah

Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!”
Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak
kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?
Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal
dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”
Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”
Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau
akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”
Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh
daerah itu sampai jam tiga,sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah
dua.
Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu
Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.
Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya:
“Sungguh, orang ini adalah orang benar!”
Dan sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ untuk tontonan
itu, melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri.
Semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan
yang mengikuti Dia dari Galilea, berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya itu.
Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang
baik lagi benar. Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu. Ia berasal
dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah. Ia pergi
menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus.
Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu
membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum
pernah dibaringkan mayat. Hari itu adalah hari persiapan dan sabat hampir mulai.
Dan perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea,
ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana mayat-Nya dibaringkan.
Demikianlah yang terjadi, atas nama seluruh bangsa, para rohaniwan menyerahkan
Dia kepada pemerintah penjajah supaya diadili. Mereka sudah mengatur skenarionya:
Yesus harus mati. Dan itu terjadi. Pengadilan di depan Pilatus itu hanya untuk
memenuhi formalitas saja. Semua sudah diatur. Pemerintah penjajah pun tidak
keberatan. Demi kepentingan politik dan stabilitas, apalah artinya satu nyawa
dihilangkan! Yesus akhirnya dijatuhi hukuman mati. Pelaksanaan hukuman mati itu
pun berjalan mulus. Itulah akhir perjalanan hidup Yesus.
Akhirnya harus dikatakan bahwa Yesus menjadi kurban kebencian dan
permusuhan para pemimpin agama Yahudi. Yesus disingkirkan atas nama hukum
Allah. Pembunuhan terhadap Yesus adalah pembunuhan keagamaan. Mungkin alasan
konkret bertindak melawan Yesus adalah pembersihan kenisah (lih. Mrk 11:28 dst.).
Tetapi dasar yang sesungguhnya ialah pewartaan Yesus yang dianggap berbahaya
bagi kedudukan dan kuasa para pemimpin agama Yahudi. Salib merupakan tanda
penolakan total terhadap Pewartaan Yesus tentang Kerajaan Allah.
Apa yang dapat kita teladani dari sikap Yesus dalam menghadapi penderitaan-Nya?



Seluruh hidup Yesus adalah wujud solidaritas dan kasih Allah kepada manusia.
Ia setara dengan Allah yang merendahkan diri untuk setara dengan manusia. Ia rela
mati mati demi manusia yang dikasihi-Nya. Dan itu semua dihayati oleh Yesus sebagai
bentuk ketaatan dan penyerahan diri secara total kepada Allah. Meneladan Yesus
sesungguhnya meneladan dua aspek hidup Yesus, yakni Solidaritas dan Ketaatan.
Kita diajak solider terhadap mereka yang miskin, menderita, tertindas dan yang
membutuhkan pembebasan dalam hidupnya. Dan kita diajak melakukan pembelaan
terhadap mereka yang penuh ketaatan, sekalipun penderitaan dan kematian menjadi
resikonya.
Dalam hidup sehari-hari ada banyak hal yang membuat kita mengalami
penderitaan. Penderitaan bisa terjadi karena adanya kekerasan, baik fisik ataupun
psikis (mental) yang menimpa diri kita karena perlakuan orang lain atau karena
kesalahan kita sendiri. Bila kita menerima perlakuan yang membuat kita menderita,
maka bisa terjadi perlakuan itu kita tanggapi dengan cara yang sama. Apabila kita
mengalami penderitaan karena tindak kekerasan dari orang lain, maka kita seringkali
menanggapinya dengan kekerasan baru terhadap orang tersebut. Apabila kekerasan
dilawan kekerasan akan timbul kekerasan baru lainnya, dan penderitaan akan
berlanjut terus. Untuk memutus rantai kekerasan yang membawa penderitaan ini
perlulah sikap yang tepat yaitu pengampunan sejati seperti yang telah dilakukan Yesus
dalam sabda pertamanya. Pengampunan sejati akan membuat kita bebas dari kuasa
dendam yang membelenggu, dan menjadi jalan menuju kedamaian hidup bersama
dengan orang lain.
Apabila penderitaan itu berasal dari kesalahan kita sendiri, maka kita perlu
mengambil sikap seperti penjahat yang disalib bersama Yesus. Penjahat yang disalib
bersama Yesus tidak menimpakan kesalahan yang mengakibatkan dirinya menderita
kepada orang lain, melainkan bertobat. Ia mengakui bahwa dirinyalah yang bersalah.
Ia tidak mencari “kambing hitam” atas penderitaan yang dialaminya. Ia menyesali
kesalahannya dan bertobat dengan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Yesus.
Sikap penjahat ini menjadi contoh yang tepat bagaimana kita dapat menghadapi
penderitaan yang kita alami karena kesalahan kita sendiri. Penderitaan yang terjadi
karena kesalahan kita sendiri tidak dapat kita atasi dengan menyalahkan orang lain.
Kita perlu mempunyai sikap tobat dan tak boleh kehilangan pengharapan kepada
Allah yang senantiasa memberi rahmat pengampunan dan keselamatan. Seperti
halnya penjahat yang bertobat telah bersandar pada Yesus, maka kita pun dapat pula
bersandar padaNya ketika kita sedang mengalami penderitaan. Penderitaan seberat
apa pun yang kita alami akan dapat kita tanggung dengan kekuatan dari Yesus, kalau
kita berani mempercayakan seluruh hidup dan penderitaan kita kepadaNya.
Hal lain juga yang dapat kita teladani dari Yesus adalah kehadiran orang lain
saat kita menderita. Pengalaman menunjukkan bahwa kehadiran seorang ibu akan
meringankan penderitaan anaknya. Oleh karena itu, kehadirannya akan sangat
berarti. Bunda Maria hadir saat-saat Yesus mengalami penderitaan di kayu salib.
Kehadirannya telah menghibur dan memberi kekuatan pada putranya. Kita percaya 



bahwa Bunda Maria juga hadir secara rohani dalam penderitaan kita. Oleh karena
itu kita bisa mengandalkan dia dan mohon untuk mendoakan kita agar kita menjadi
kuat dalam menjalani penderitaan.
Sebagaimana dialami Yesus, saat-saat mengalami kepahitan dan penderitaan
hidup seringkali kita merasa ditinggalkan oleh orang-orang yang kita kasihi, bahkan
merasa ditinggalkan Allah. Yesus telah memberi teladan betapa bernilai kehadiran
dan sikap bela rasa kita terhadap penderitaan orang lain. Kita pun bisa ikut berbela
rasa kepada orang-orang yang sedang mengalami penderitaan. Bela rasa membuat
kita tidak merasa sendirian. Kita bahkan bisa menanggung penderitaan yang kita
alami bersama orang lain.
Pada detik-detik akhir hidupNya, Yesus berseru, “Sudah selesai!” Artinya, lewat
penderitaanNya, Yesus menyelesaikan tugas perutusanNya di dunia ini dengan
sempurna. Ada dua hal yang patut kita teladani. Pertama, kita harus melaksanakan
dan menyelesaikan tugas-tugas kita dengan sebaik-baiknya. Kedua, kita harus berani
menderita dalam menunaikan tugas-tugas kita itu sampai akhir hayat. Bahkan Yesus
mempersembahkan penderitaanNya demi keselamatan seluruh umat manusia. Kita
pun boleh mempersembahkan penderitaan kita kepada Tuhan bagi keselamatan
orang-orang yang kita cintai atau kita kenal.
Yesus melaksanakan tugas perutusanNya dengan sebaik-baiknya, sampai titik
darah penghabisan.




Injil Markus 15 : 1-39

15:1 Pagi-pagi benar imam-imam kepala bersama tua-tua dan ahli-ahli Taurat dan seluruh Mahkamah Agama sudah bulat mupakatnya. Mereka membelenggu Yesus lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus.
15:2 Pilatus bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya."
15:3 Lalu imam-imam kepala mengajukan banyak tuduhan terhadap Dia.
15:4 Pilatus bertanya pula kepada-Nya, katanya: "Tidakkah Engkau memberi jawab? Lihatlah betapa banyaknya tuduhan mereka terhadap Engkau!"
15:5 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawab lagi, sehingga Pilatus merasa heran.
15:6 Telah menjadi kebiasaan untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu menurut permintaan orang banyak.
15:7 Dan pada waktu itu adalah seorang yang bernama Barabas sedang dipenjarakan bersama beberapa orang pemberontak lainnya. Mereka telah melakukan pembunuhan dalam pemberontakan.
15:8 Maka datanglah orang banyak dan meminta supaya sekarang kebiasaan itu diikuti juga.
15:9 Pilatus menjawab mereka dan bertanya: "Apakah kamu menghendaki supaya kubebaskan raja orang Yahudi ini?"
15:10 Ia memang mengetahui, bahwa imam-imam kepala telah menyerahkan Yesus karena dengki.
15:11 Tetapi imam-imam kepala menghasut orang banyak untuk meminta supaya Barabaslah yang dibebaskannya bagi mereka.
15:12 Pilatus sekali lagi menjawab dan bertanya kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan orang yang kamu sebut raja orang Yahudi ini?"
15:13 Maka mereka berteriak lagi, katanya: "Salibkanlah Dia!"
15:14 Lalu Pilatus berkata kepada mereka: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Salibkanlah Dia!"
15:15 Dan oleh karena Pilatus ingin memuaskan hati orang banyak itu, ia membebaskan Barabas bagi mereka. Tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.
15:16 Kemudian serdadu-serdadu membawa Yesus ke dalam istana, yaitu gedung pengadilan, dan memanggil seluruh pasukan berkumpul.
15:17 Mereka mengenakan jubah ungu kepada-Nya, menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya.
15:18 Kemudian mereka mulai memberi hormat kepada-Nya, katanya: "Salam, hai raja orang Yahudi!"
15:19 Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh, dan meludahi-Nya dan berlutut menyembah-Nya.
15:20a Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah ungu itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya.
15:20b Kemudian Yesus dibawa ke luar untuk disalibkan.
15:21 Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.
15:22 Mereka membawa Yesus ke tempat yang bernama Golgota, yang berarti: Tempat Tengkorak.
15:23 Lalu mereka memberi anggur bercampur mur kepada-Nya, tetapi Ia menolaknya.
15:24 Kemudian mereka menyalibkan Dia, lalu mereka membagi pakaian-Nya dengan membuang undi atasnya untuk menentukan bagian masing-masing.
15:25 Hari jam sembilan ketika Ia disalibkan.
15:26 Dan alasan mengapa Ia dihukum disebut pada tulisan yang terpasang di situ: "Raja orang Yahudi".
15:27 Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan-Nya dan seorang di sebelah kiri-Nya.
15:28 [Demikian genaplah nas Alkitab yang berbunyi: "Ia akan terhitung di antara orang-orang durhaka."]
15:29 Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia, dan sambil menggelengkan kepala mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari,
15:30 turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!"
15:31 Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli Taurat mengolok-olokkan Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata: "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!
15:32 Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu, supaya kita lihat dan percaya." Bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga.
15:33 Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga.
15:34 Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
15:35 Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: "Lihat, Ia memanggil Elia."
15:36 Maka datanglah seorang dengan bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum serta berkata: "Baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia."
15:37 Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya.
15:38 Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah.
15:39 Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: "Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!"

 

kesimpulan pada
hal-hal berikut:
a. Penderitaan merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup manusia. Hampir
semua orang mengalami, walau dengan kadar dan bentuk yang berbeda. Pen-
deritaan ditanggapi orang secara berbeda. Ada yang bersikap negatif, bila men-
derita ia menjadi putus asa, menyalahkan diri sendiri atau orang lain, bahkan
menyalahkan Tuhan dengan bertindak tidak adil. Sehingga ia merasa hidupnya
tak berarti lagi, muncul sikap dendam pada orang lain atau menjauhi Tuhan


dan tidak menutup kemungkinan ia akan mengakhiri hidupnya secara tragis.
Tetapi ada juga ketika menderita ia akan berusaha tetap tabah, menjalaninya
dengan sabar dan tegar dan lebih mendekatkan diri pada Tuhan, seperti halnya
kakek penjual kangkung dalam cerita di atas tersebut.
b. Dua peristiwa penting sebelum sengsara dan wafat Yesus yaitu Pertama Sebelum
menderita sengsara, Yesus menyuruh para murid-Nya untuk mempersiapkan
perjamuan Paskah bersama. Rupanya, Perjamuan Malam Paskah itu, menjadi
perjamuan terakhir bagi Yesus dengan para murid-murid-Nya, sekaligus
menjadi perjamuan perpisahan sebelum Ia meninggalkan para murid-Nya.
Perjamuan itu menjadi lambang pengorbanan Yesus yang sebesar-besarnya
bagi para murid dan umat manusia. Perjamuan itu menjadi perjamuan syukur,
sekaligus pengorbanan diri-Nya. Roti dan anggur yang dihidangkan menjadi
lambang Tubuh dan Darah-Nya yang akan dikorbankan di kayu salib.
Ke dua, setelah mengadakan Perjamuan Paskah, Yesus ditemani para murid-
Nya pergi ke Taman Zaitun untuk berdoa. Yesus sangat sadar bahwa dalam
menjalankan tugas perutusan dari Bapa-Nya, Ia akan menghadapi resiko yang
sangat berat, bahkan harus kehilangan nyawa-Nya dengan cara yang sangat
tragis. ”Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripada-Ku;
tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi”
(Luk 22:42). Sebagai manusia Ia tentu merasa sangat takut. Injil Lukas secara
dramatis menggambarkan: “Ia sangat ketakutan dan makin sungguh-sungguh
berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah”
(Luk 22:44). Inilah dua peristiwa penting yang terjadi sebelum Yesus mengalami
penderitaan dan wafat disalib.
c. Ketika Yesus berdoa di Taman Getsemani, Yesus ditangkap dan atas nama
seluruh bangsa, para rohaniwan menyerahkan Dia kepada pemerintah penjajah
supaya diadili. Mereka sudah mengatur skenarionya: Yesus harus mati. Dan
itu terjadi. Pengadilan di depan Pilatus itu hanya untuk memenuhi formalitas
saja. Semua sudah diatur. Pemerintah penjajah pun tidak keberatan. Demi
kepentingan politik dan stabilitas, apalah artinya satu nyawa dihilangkan!
Yesus akhirnya dijatuhi hukuman mati. Pelaksanaan hukuman mati itu pun
berjalan mulus. Itulah akhir perjalanan hidup Yesus.
Akhirnya harus dikatakan bahwa Yesus menjadi kurban kebencian dan
permusuhan para pemimpin agama Yahudi. Yesus disingkirkan atas nama
hukum Allah. Pembunuhan terhadap Yesus adalah pembunuhan keagamaan.
Mungkin alasan konkret bertindak melawan Yesus adalah pembersihan
kenisah (lih. Mrk 11:28 dst.). Tetapi dasar yang sesungguhnya ialah pewartaan
Yesus yang dianggap berbahaya bagi kedudukan dan kuasa para pemimpin
agama Yahudi. Salib merupakan tanda penolakan total terhadap Pewartaan
Yesus tentang Kerajaan Allah.
d. Sebagai murid-Nya, kita harus belajar dari sikap Yesus dalam menghadapi
penderitaan yaitu: Pertama, tetap tabah dalam menghadapi penderitaan dan
disertai sikap penyerahan diri kepada Tuhan. Ke dua berani menghadapi 

resiko demi menegakkan kebenaran dan keadilan. Ke tiga, Kita diajak solider
terhadap mereka yang miskin, menderita, tertindas dan yang membutuhkan
pembebasan dalam hidupnya.




 


 

Popular Post