Damianus Kusviantono, M.Pd

Saya Damianus Kusviantono, M.Pd mengajak saudara semua untuk belajar bersama terkait dengan materi Pendidikan Agama Katolik. Semoga pemahaman kita semakin mendalam dan hidup kita pun berbuah manis.





Peran Masyarakat bagiku




Peran Masyarakat Bagiku (K7-Pj 12)



Kompetensi Dasar
3.5. Menemukan peran keluarga, sekolah dan masyarakat terhadap perkembangan dirinya
4.5. Menghargai peran keluarga, sekolah dan masyarakat terhadap perkembangan dirinya



Indikator
Peserta didik mampu
1. Mengenal tokoh-tokoh masyarakat sekitar tempat tinggalnya.
2. Menjelaskan sikap yang perlu dikembangkan dalam bermasyarakat.
3. Menjelaskan peran masyarakat bagi perkembangan diri.
4. Menjelaskan sikap-sikap yang perlu dikembangkan dalam hidup bermasyarakat dan
bernegara seturut teladan Yesus.
5. Mendoakan masyarakat dan tokoh-tokohnya.



Kesadaran bahwa dirinya bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat bagi remaja di perkotaan menunjukkan gejala yang menurun. Banyak remaja di perkotaan yang sudah tidak lagi mengenal tetangga, bahkan yang terdekat sekalipun, di kiri-kanan, depan belakang rumahnya. Hidup mereka seolah-olah berada di tanah asing. Sementara remaja yang hidup di
pedesaan masih mengenal masyarakat sekitar kampungnya. Sebagian mereka bahkan masih terlibat dalam berbagai aktivitas kampungnya dalam kebersamaan dengan seluruh warga.

Relaitas ini perlu diwaspadai, karena bukan tidak mungkin remaja di pedesaanpun akan tergerus arus keterasingan itu. Padahal, dalam perjalanan hidup dan perkembangan seseorang, mereka yang tidak bisa melepaskan diri dari peran masyarakat. Untuk memperkembangkan diri, manusia butuh figur, keteladanan, norma dan kebiasaan yang mendukung, yang menampilkan nilai-nilai positif. Demikian pula masyarakat harus dipandang sebagai medan bagi seseorang mengimplementasikan nilai-nilai, sikap dan pandangannya. Masyarakat adalah medan perwujudan iman. Di situlah hidup seseorang akan diuji.


Dalam Dokumen Konsili Vatikan II tentang Gereja dalam Dunia Dewasa ini (Gaudium et Spes) artikel 25 ditegaskan, bahwa “pertumbuhan pribadi manusia dan perkembangan masyarakat sendiri saling tergantung”. Hidup di tengah dan bersama masyarakat bukanlah suatu kewajiban, tetapi merupakan kodrat yang tidak bisa dimungkiri. Ia melekat sebagai keharusan hakiki, karena tanpa itu semua ia tidak akan bisa hidup dan berkembang. Tetapi kehadiran kita di tengah dan bersama masyarakat tidak bisa dilepaskan dari iman kita akan Yesus Kristus. Gereja mengajarkan
agar iman akan Yesus Kristus itu mampu menjadi landasan dan motivasi yang kuat dalam kehadiran dan keterlibatan dalam masyarakat. Umat beriman Kristiani tidak boleh tergerus arus masyarakat begitu saja. Ia harus mampu mewarnai masyarakat dengan nilai-nilai Kerajaan Allah yang telah diperjuangkan oleh Yesus Kristus. Ia harus mampu menjadi garam, ragi, dan terang
dalam masyarakat.


Melalui pelajaran ini, kalian dihantar agar menyadari dirinya sebagai warga masyarakat. Dalam pergaulan dalam masyarakat itu, ia dapat belajar dari adat-istiadat, kebiasaan, norma, keteladanan yang ada dalam kehidupan masyarakat; dengan tetap bersikap kritis yang bersumber pada ajaran Gereja. Mereka dipanggil untuk berperan aktif dalam kehidupan
masyarakat, sesuai dengan kemampuan, tugas dan fungsi kita di dalamnya.




 Istilah ”masyarakat” memiliki arti yang luas. Menurut ilmu sosiologi, masyarakat adalah keseluruhan yang konkret historis dari segala hubungan timbal-balik antara manusia dan macam-macam kelompok. Masyarakat tersusun menurut
macam-macam kelompok, organisasi, dan anggota dengan status dan peranan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, hidup bermasyarakat harus diatur secara aktif dan adil. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan masyarakat demi
perkembangannya.

Dalam masyarakat terdapat kebiasaan, orang yang ditokohkan, norma, adat istiadat, aturan, sikap dan pandangan pribadi maupun kelompok. Unsur-unsur tersebut perlu disikapi secara kritis. Kita bisa belajar memiliki semangat berkorban
dari tokoh masyarakat tertentu, tapi kita juga hati-hati karena ada orang byang ditokohkan tapi kehidupannya tidak patut. Kita bisa belajar melakukan kebiasaan baik dalam masyarakat, seperti gotong royong bekerja bakti, tetapi jangan sampai
kita ikut-ikutan beramai-ramain memukuli pencuri tanpa proses hukum hanya untruk menunjukkan solidaritas dengan warga.

Hidup bermasyarakat mengandaikan: kita mau hadir dan hidup bersama dengan mereka, terlibat dalam aktivitas mereka dan memenuhi kewajiban yang benar yang ada dalam masyarakat, tetapi tetap perlu bijak dan mendasarkan segala
sesuatu pada kebenaran.

Peran Gereja bagi perkembanganku




Peran Gereja bagi Perkembanganku (K7-Pj 11)


Kompetensi Dasar
3.5 Menemukan peran keluarga, sekolah dan masyarakat terhadap perkembangan di-
rinya
4.5 Menghargai peran keluarga, sekolah dan masyarakat terhadap perkembangan dirinya



Indikator
Peserta didik mampu
1. Menjelaskan pelajaran/manfaat yang dapat diperoleh dari berbagai kegiatan Gereja.
2. Menyebutkan tokoh Gereja yang patut dianggap sebagai teladan dalam mem-
perkembangkan diri.
3. Menjelaskan peran Gereja tokoh pendahulu umat beriman dalam pengembangan
diri, berdasarkan Rom 10: 14-15.
4. Menjelaskan peran Gereja tokoh pendahulu umat beriman dalam pengembangan
diri, berdasarkan Katekismus Gereja Katolik, Artikel 2030.
5. Terbiasa melibatkan diri dalam kegiatan Gereja demi pengembangan diri.
6. Mewawancarai aktivis umat untuk memperoleh sharing pengalaman keterlibatannya
dalam Gereja serta dampaknya dalam kehidupan pribadi.




Manusia adalah makhluk sosial dan sekaligus mahluk beriman, yang mempunyai relasi secara khusus dengan Allah Pencipta-Nya. Tetapi tak mugkin ia beriman bila tidak ada orang yang lebih dahulu beriman, dan juga bila orang yang beriman sebelumnya tidak mewartakan imannya kepada generasi berikutnya. Iman seseorang juga tidak akan berkembang bila tidak ada relasi dan komunikasi antar orang beriman. Iman akan berkembang bila masing-masing mau saling sharing. Iman juga akan  berkiembangterutamamelaluiketerlibatanaktifdalamkegiatandanpelayanankaumberiman.Paham
dan gagasan seperti ini perlu ditumbuhkan dalam diri remaja. Sesuai dengan usianya, hidup beriman membutuhkan proses afiliasi pada komunitas iman (Gereja). Mereka membutuhkan model hidup beriman yang baik dan benar; pun pula mereka membutuhkan wadah untuk mengimplementasikan imannya dalam kebersamaan dengan yang lain.



Jadi ada dua gagasan penting yang ingin didalami bersama dalam pelajaran ini. Pertama, menekankan bahwa seseorang dapat berkembang imannya melalui keterlibatan dalam pelayanan Gereja; kedua, ia akan berkembang bila belajar meneladan dari tokoh-tokoh yang menunjukkan sikap dan komitment iman yang baik. Kedua gagasan itu diolah dengan mengolah contoh pengalaman  Remaja yang terlibat dalam kegiatan Gerejani,sertasikap dan pernyataan Gereja sendiri yang senantiasa melayani umat-Nya melalui berbagai bentuk pelayanannya.



              
Hal Penting :

Sesungguhnya sejak seseorang dibaptis, ia menjadi anggota komunitas Gereja yang dipanggil untuk ikut bertanggung jawab dan terlibat aktif dalam kegiatan Gereja. Sebab iman di satu pihak berdimensi pribadi, tetapi juga berdimensi komunal. Iman pertama-tama relasi pribadi seseorang dengan Tuhan yang perlu ditampakan dalam kebersamaan. Orang beriman dapat memberi banyak hal demi kemajuan Gereja, dan sebaliknya Gereja menydiakan berbagai macam pelayanan agar  kehidupan oran beriman semakin  berkembang menuj ukesempurnaannya ,baikmelaluiketeladanan
tokoh-tokohnya maupun melalui kegiatan-kegiatannya.


1. Untuk mengembangkan diri kita dapat belajar dari berbagai macam sumber.
Salah satu sumber dapat kita temukan dalam komunitas jemaat beriman (Gereja).

2. Kita dapat belajar dengan melihat sikap dan tindakan-tindakan baik yang telah
dicontohkan oleh tokoh-tokoh dalam Gereja, terutama melalui keterlibatan langsung dalam berbagai kegiatan Gereja tersebut.

3. Banyak sikap dan keteladanan tokoh-tokoh Umat yang terlibat dalam Gereja
yang dapat menjadi pelajaran bagi kita. Umumnya mererka terlubat dengan penuh semangat dan dengan sukarela. Mereka itu aktif di Gereja, padahal untuk itu mereka seringkali harus berkorban tenaga, waktu, dan pikiran. Mereka bekerja tanpa pamrih. Keteladanan semacam ini bisa ditiru oleh kita agar kita
pun semakin bertumbuh menjadi pribadi yang sama dengan mereka.


5. Rasul Paulus dalam suratnya kepada Umat di Roma memberi penegasan tentang peranan orang-orang beriman yang lebih dahulu bergabung dalam Gereja. Melalui kesaksian hidup dan iman mereka itulah iman Gereja akan Yesus Kristus dan pelayanannya diteruskan dari generasi ke generasi, sehingga manusia yang lahir di kemudian hari dapat mengenal Yesus Kristus yang adalah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan.

6. Atas jasanya itu, kita tidak bisa melupakan begitu saja. Kita dapat men-
doakan mereka. Tetapi terutama kita dapat meneladan hidup mereka
dalah kehidupan kita sehari-hari.

7. Dari Gereja kita memperoleh.
- Sabda Allah yang mencakup “hukum-hukum Kristus”
- Rahmat sakramen 
- Teladan kekudusan




 8. Untuk mengembangkan diri kita dapat belajar dari berbagai macam sumber.
Salah satu sumber dapat kita temukan dalam komunitas jemaat beriman
(Gereja).

9.  Kita dapat belajar dengan melihat sikap dan tindakan-tindakan baik yang telah dicontohkan oleh tokoh-tokoh dalam Gereja, terutama melalui keterlibatan langsung dalam berbagai kegiatan Gereja tersebut.

10. Banyak sikap dan keteladanan tokoh-tokoh Umat yang terlibat dalam Gereja  yang dapat menjadi pelajaran bagi kita. Umumnya mererka terlubat dengan penuh semangat dan dengan sukarela. Mereka itu aktif di Gereja, padahal untuk itu mereka seringkali harus berkorban tenaga, waktu, dan pikiran. Mereka
bekerja tanpa pamrih. Keteladanan semacam ini bisa ditiru oleh kita agar kita pun semakin bertumbuh menjadi pribadi yang sama dengan mereka.







 

Popular Post